Morse dan Semaphore
Dua sandi yang diajarkan berdampingan di Pramuka, dan justru karena itu sering dikira serupa. Sebenarnya keduanya bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda.
Perbedaan yang sebenarnya
Satu kalimat yang menjelaskan hampir semuanya:
- Morse adalah sandi waktu. Yang membedakan huruf adalah panjang bunyi dan panjang diam - titik satu satuan, garis tiga satuan. Karena itu morse bisa dikirim lewat apa saja yang bisa dinyalakan dan dimatikan: peluit, senter, radio, ketukan di pipa.
- Semaphore adalah sandi posisi. Yang membedakan huruf adalah letak kedua lengan, bukan berapa lama lengan itu di sana. Satu huruf adalah satu sikap, dan sikap itu diam sampai huruf berikutnya.
Akibatnya langsung terasa. Semaphore hanya bekerja kalau penerima melihat pengirim - jarak pandang, siang hari, tidak ada penghalang. Morse tidak peduli sama sekali bagaimana ia dibawa; ia hanya butuh sesuatu yang punya dua keadaan.
Mana yang lebih cepat
Semaphore, dalam jarak dekat - dan jawabannya sering mengejutkan orang.
Setiap huruf semaphore adalah satu gerakan, jadi kecepatannya dibatasi oleh seberapa cepat lengan berpindah, bukan oleh panjang sandinya. Huruf apa pun butuh waktu yang kurang lebih sama. Di morse tidak begitu: E adalah satu titik, sedangkan angka nol adalah lima garis - hampir dua puluh kali lebih panjang.
Justru perbedaan panjang itulah yang membuat morse efisien. Huruf yang sering muncul dibuat pendek, yang jarang dibuat panjang. Alfred Vail dikatakan menentukan panjang tiap huruf dengan menghitung persediaan huruf timah di sebuah percetakan surat kabar - huruf yang paling banyak tersedia adalah yang paling sering dipakai, dan huruf itulah yang mendapat sandi terpendek.
Kapan masing-masing dipakai
Semaphore bendera lahir di laut dan tinggal di sana. Antara dua kapal yang saling terlihat, ia cepat, tidak butuh alat, dan tidak bisa disadap dari jauh - tiga alasan yang masih berlaku sampai sekarang, dan angkatan laut di banyak negara masih mengajarkannya.
Morse pergi ke arah lain. Begitu ada kabel, lalu radio, jarak berhenti menjadi masalah. Sampai tahun 1999 morse masih menjadi bagian dari sistem marabahaya laut internasional, dan sampai sekarang ia dipakai di radio amatir - bukan karena wajib, melainkan karena sinyal morse masih bisa dibaca ketika suara sudah tenggelam di derau.
Di Pramuka keduanya diajarkan karena keduanya melatih hal yang sama: menyampaikan pesan dengan alat sesederhana mungkin, dan menerimanya dengan teliti. Dua orang dengan dua bendera bisa berkomunikasi tanpa apa pun yang perlu diisi ulang atau diperbaiki.
Belajar keduanya tanpa tertukar
Ini masalah nyata, dan penyebabnya bukan kebodohan melainkan cara belajarnya. Kalau morse dihafal sebagai gambar titik dan garis, ia disimpan di tempat yang sama dengan gambar posisi lengan semaphore - dan dua kumpulan gambar yang mirip bentuknya akan saling mengganggu.
Jalan keluarnya: pelajari morse lewat telinga dan semaphore lewat tubuh. Morse yang masuk sebagai bunyi tidak pernah bertabrakan dengan sikap lengan, karena keduanya disimpan berbeda sejak awal.
Untuk sisi morse ada latihan mendengar di situs ini. Untuk semaphore tidak ada alat di sini - ia butuh dua lengan dan seseorang yang melihat, dan itu tidak bisa digantikan layar.
Pertanyaan yang sering muncul
-
Apakah semaphore juga memakai titik dan garis?
Tidak. Semaphore sama sekali tidak punya titik dan garis. Satu huruf adalah satu posisi kedua lengan, dan lamanya lengan berada di sana tidak berarti apa-apa.
-
Mana yang lebih dulu ada?
Semaphore. Sistem semaphore menara sudah dipakai di Prancis sejak tahun 1790-an, sekitar setengah abad sebelum telegraf listrik dan sandi morse.
-
Apakah semaphore masih dipakai?
Ya, terutama di angkatan laut untuk komunikasi jarak dekat antar kapal, saat radio sengaja tidak dipakai. Di luar itu ia hidup terutama di kepanduan dan kepramukaan.
-
Untuk lomba Pramuka, mana yang lebih penting?
Keduanya biasanya diuji. Bedanya, semaphore bisa dilatih berdua dalam setengah jam, sedangkan morse dengar butuh berminggu-minggu - jadi mulailah morse lebih awal.